Tampilkan postingan dengan label Kegiatanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatanku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 September 2008

CUAPEEEEEEEEEEKKK!!

Coba perhatikan wajah-wajah dalam foto ini. Walau fokus (kecuali Faisal) dan berusaha tetap ceria dan tersenyum depan kamera, namun rona kecapekan tergambar di wajah masing-masing. Kami sedang menunggu pesanan makan siang di salah satu pondok makan di tengah sawah (tolong dong di edit lagi dimana posisinya), Minggu 22 Juni 2008, usai reuni. Semua teman-teman sudah bubar kembali ke tempatnya masing-masing.
Sebenarnya gambarnya yang goyang atau faisalnya yang teler (kecapekan). Yang jelas kelaperan, lama menunggu pesanan ikan bakar, cumi bakar dan udang bakar. Tapi pas ngerasa sambelnya, hm....faisal seger lagi. Abis, sambelnya uenak banget.
(diambil dari: www.angera81.blogspot.com)

"SAHABAT-SAHABAT" LOPER KORAN

Seperti biasanya, setiap pagi dalam perjalanan ke kantor saya membeli koran. Saya dan suami seperti ada "pembagian khusus", suami membeli koran tempo, kompas, dan saya Kedaulatan dan Jawa Pos. Kami sengaja tidak berlangganan, biar tidak terpaku pada satu media, dan khususnya saya, dengan membeli koran di pinggir jalan, saya seakan-akan "menitipkan diri" pada mereka. Maksudnya, dengan interaksi transaksi koran, mereka "mengenal" saya walau pasif, jadi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saya, paling tidak ada yang "mengenal".

Pola ini saya lakukan sewaktu masih bertugas di Mungkid. Jadi di sepanjang jalan Yogya Mungkid, saya punya "pos-pos" langganan koran. Misalnya di lampu merah Gamping, loper koran disini akan saya beli Kedaulatan Rakyat. Jadi ketika mobil saya berhenti, dengan serta merta lopernya akan menyodori saya Kedaulatan Rakyat. Di terminal Jombor, bagiannya Jawa Pos. Jadi ketika loper itu naik bus dan melihat saya sebagai penumpang, dengan serta merta akan memberikan saya Jawa Pos. Di Terminal Muntilan, jatahnya tabloid nova. Jadi ketika bus saya memasuki terminal Muntilan, (walau dalam keadaan tidur), loper koran akan "membangunkan" saya dengan pelan, dengan "bahasa halus" (maksudnya menawarkan) Nova dan biasanya bahasanya: "sampun kagungan Nova bu?". Dan yang di kantor jatahnya tabloid Aura. Entah mau beli atau tidak, pokoknya tiap Aura terbit, pasti di meja saya diletakkan Aura, walau kadang berulang beberapa minggu (karena kebetulan saya lagi sidang/tidak ada di tempat) dan saya harus membayar setelah "numpuk" 4-6 edisi yang belum saya bayar.Dan masih ada satu lagi, di pompa bensin Mendut. Yang ini karena tidak rutin, makanya tiap ketemu, saya membeli yang sekiranya saya jarang membeli dan saya menduga suamiku belum membeli, misalnya Republika atau tabloid Nyata.

Dari kesemuanya langganan saya, yang saya kenal namanya hanya 2, yaitu yang di pompa bensin (saya memanggilnya pak Yanto) dan yang datang ke kantor (saya memanggilnya mas Udin). Tapi dari kesemua langganan koran saya, semua punya kesan masing-masing pada saya.

Yang di lampu merah gamping, karena nyaris tiap lewat saya pasti membeli koran, makanya sejak awal saya selalu selalu "menyiapkan" uang Rp 2.000 untuk menyerahkan uang. Ini saya lakukan, kuatir waktu yang saya punya di lampu merah tidak banyak, jadi transaksi bisa cepat dilakukan. Tapi jika keadaan mendesak, saya belum bayar dan lampu sudah hijau, maka loper koran ini akan mempersilahkan saya jalan tanpa bayar dulu, dan dibayar besok harinya. Inilah yang saya kagumi, begitu percayanya si loper, bagaimana jika saya lupa/tidak membayar? Padahal mungkin keuntungannya hanya sedikit. Tapi ada hikmah yang saya bisa ambil, bahwa "kepercayaan" itu muncul bisa hanya dengan pola interaksi yang pasif.
Ada lagi yang "khas " dari loper saya ini, setiap tahun pasti saya diberi kalender Kedaulatan Rakyat, padahal kalender ini ditujukan pada para langganan, bukan kepada saya yang membeli "cetengan". Mungkin si loper sudah menganggap saya sebagai "langganan cetengan" kaleeeee.

Loper yang di terminal Jombor. Waaah...paling repot jika masuk terminal, sementara busnya gak berhenti lama. Alhasil "transaksi" terburu-buru. Atau jika bus datang, kemudian si loper tidak naik bus untuk menjajakan koran, maka saya biasanya memanggilnya dari jendela. Atau juga si loper belum sempat masuk, tapi sudah keduluan tukang ngamen, otomatis si loper akan masuk kemudian. Tapi jika tukang ngamen tau saya perlu korfan, maka pengamen akan memanggil lopernya dan akhirnya si loper akan masuk lewat pintu belakan bus untuk menyerahkan korannya pada saya.

Loper yang di terminal Muntilan. Langganan saya ada 2 orang. Tapi akhir-akhir ini saya cenderung membeli di "pak Ndut" istilah saya untuk membedakan keduanya. Karena "pak Kurus" kelihatannya hatinya sangat jelek. Selalu berebut pembeli. Padahal kadang saya maunya berbagi rejeki, dengan berganti-ganti loper yang saya beli. Kesannya si bapak kurus halus bahasanya, tapi sebenarnya beberapa kali saya dapati pak Kurus ini mengumpat jika langganannya beralih ke loper yang lain. Makanya akhir-akhir ini saya cenderung beli di pak Ndut. Hal yang sama juga pernah saya temui ketika sesama penumpang mencari pak Ndut untuk membeli koran, padahal pak kurus sudah menawarkan koran lebih dahulu.

Loper yang di kantor. Ini lain lagi....seperti yang saya ceritakan di atas, jika setiap terbit maka dengan serta merta loper ini akan meletakkan tabloidnya di meja saya. Dan dengan setianya mas Udin ini akan mencatat berapa koran yang saya beli tapi belum dibayar. Nah jika suatu waktu saya ketemu, selain saya akan membayar semua tagihan koran, saya juga pasti "numpang baca" beberapa tabloid yang mas Udin baca. Ada Nurani, idea, Home, wanita Indonesia dan lain-lain. Teknisnya, sebelum keliling kantor, pasti mas Udin mampir di ruang hakim, dan jika ketemu saya, maka koran dan tabloid "numpang baca" tadi ditinggal ke saya, kemudian mas Udin akan keliling kantor, dan setelah itu akan kembali ke ruang saya untuk mengambil tabloid "numpang baca " tadi. Hehe....kalau ini kesannya buy one get all!!

Dan yang terakhir, adalah yang di pompa bensin mendut. Ini lain lagi....karena saya tidak rutin membeli bensin di pompa bensin mendut, maka jika kebetulan mampir, maka saya akan didatangi oleh pak Yanto untuk menawarkan koran-koran yang masih ada. Jika ada Bobo, tentu akan saya beli, tapi jika semuanya sudah ada, maka pasti saya mencari-cari kira-kira koran apa yang bisa saya beli. Biasanya jatuh ke koran Sindo. Dan khasnya pak Yanto, saya biasanya membeli di atas harga bandrol (beda dengan di Gamping, yang di bawah HET), bukan karena memang harga yang diminta mahal, tapi saya membayangkan "perjuangan" pak Yanto dari rumahnya di Salaman untuk mengambil koran di Muntilan (jarak nya sekitar 18 km) kemudian menjualnya di Mendut yang jaraknya 10 km dari Muntilan, kemudian sorenya harus menyetor lagi ke Muntilan dan kembali ke Salaman. Begitu setiap harinya, dengan sepeda kayuh,nyaris setiap harinya hampir 50 km dikayuh sepedanya untuk mendapatkan sedikit keuntungan dari jualan koran. Ah....betapa kita harus menyukuri hidup kita yang ada ini, tak perlu melihat jauh-jauh, cukup dengan bertemu dengan pak Yanto, maka kenikmatan itu semakin tterasa.

Itulah sahabat-sahabat loper saya, yang telah melayani saya kurang lebih 10 tahun, mereka sudah menjadi sahabat pasif saya. Dan alhamdulillah dengan bersahabat dengan mereka, saya merasa sepanjang jalan Yogya-Mungkid saya aman, karena ada sahabat-sahabat saya di sepanjang jalan. Dan alhamdulillah selama ini tak ada kejadian yang tidak saya inginkan. Saya masih berharap, setiap saya melewati jalan itu dan bertemu sahabat-sahabat loper saya itu, saya masih membeli koran-tabloid mereka.

Sabtu, 30 Agustus 2008

MULAI BERTUGAS DI PA BANTUL


Sudah menjadi "tradisi" di lingkungan Pengadilan Agama, jika mulai bertugas di wilayah baru, harus dimulai dengan "pelantikan". Tentunya bukan pelantikan sebagai hakim (karena pelantikan hakim tentunya sejak mendapat SK hakim pertama) tapi dilantik untuk mulai bertugas di PA yang baru.

Terlalu dini jika saya langsung menilai teman-teman di PA Bantul, tapi yang jelas baru bebrapa hari di Bantul, proses adaptasi itu terasa mudah, kerja mulai nyaman. Memang perkara di PA Bantul jauh lebih sedikit dibanding di PA Mungkid, sedangkan jumlah hakimnya lebih banyak.Tentu ini hal yang positif bagi seorang hakim, karena beban kerja lebih banyak, sehingga lebih banyak punya waktu untuk memeriksa perkara.Dengan demikian, diharapkan perkara-perkara yang diputus akan lebih berkualitas. Semoga..........

Perpisahan dengan teman-teman PA Mungkid


Tak terasa sudah hampir satu dasawarsa saya bertugas di Mungkid. Sebenarnya ini sudah melebihi jatah waktu, seharusnya siklus mutasi itu dalam 5 tahunan. Ada "untungnya" juga karena tak perlu adaptasi dengan lingkungan kerja yang baru dan tentunya teman-teman di Mungkid juga sudah tau cara "meladeni" keseharian saya, pola kerja saya, pola sidang yang tentunya kaitannya dengan BAP. Pokoknya sudah ueeeennnnaaaakkkkkk, karena cukup dengan kedipan mata, lirikan, satu kata, semuanya sudah selesai.

Tapi itulah.......sebagai abdi negara, abdi masyarakat, SK mutasi itu harus dilaksanakan, di samping satu anugrah bagi saya, karena saya di mutasi di PA BAntul, yang nota benenya jarak ke rumah sangat dekat (hanya 10 km), bandingkan dengan Mungkid yang 48 km dari rumah.

Banyak hal yang bisa kita dapatkan dalam satu komunitas kerja, dan semuanya beragam. Pola dan cara bergaul PA Mungkid tentu akan berbeda dengan PA Bantul. Tapi yang jelas di PA Mungkid, persaudaraannya begitu kental, rasa kebersamaan juga begitu tinggi, sehingga kekompakan sangat terfasa. Memang....tentunya ada hal-hal yang membuat "geseh" tapi itu semua sebagai bumbu penyedap dan variasi dalam pergaulan.
Terima kasih teman-teman di PA Mungkid, terima kasih selama ini telah menjadi sahabat saya dalam bekerja, dan dalam suka dan duka saya.

Minggu, 15 Juni 2008

Pramuka di Pabelan



Inilah kegiatan pramukla kami saat masih di Pabelan. Seru, dan mengasyikkan. Foto di ats, saat kami bersama-sama ke wihara mendut dan berdialog dengan bikhu. Foto ini diambil pada saat Latihan Tingkat tahun 1985.

Kamis, 24 April 2008

Di stasiun Surabaya


Begini nih kalau sudah jalan rame-rame.....pasti heboh!! Begitu juga waktu dengan teman-teman kuliah ke Surabaya, biar di stasiun juga main foto melulu. Entah posisi siap difoto atau tidak, yang jelas....pret-pret!!

belajar saham di bes


Belajar Saham di Bursa Efek Surabaya.
Ternyata saham-persahaman itu gak mudah ya....bisa buat stres. Saya yang sehari-harinya hanya membaca di koran itupun hanya sepintas, diajari simulasi transaksi di Bursa Efek Surabaya. Ternyata ruwet juga..... Maklum perubahan berlangsung dalam hitungan detik. Alhasil untuk uji coba pertama, kelompokku minus, hehe.... Tapi untuk transaksi kedua kami ok punya bo....lumayan, rangking 4.
Banyak hal-hal yang akhirnya menjadi "lelucon", misalnya teman-teman perokok, memborong saham-saham dari pabrik rokok, mungkin mereka kuatir pabrik rokoknya ditutup, atau juga teman yang bapaknya di pertambangan melepas sahamnya, dstnya. Ternyata walau hanya simulasi, tetap seru juga!!

makan di gudeg pawon

Yogya memang hidup 24 jam, jadi tengah malampun gak perlu takut kelaparan. Ada gudeg yang sangat terkenal justru baru buka jam 23.30 WIB, sangat laris!! Padahal tempat jualnya, jauh dari kesan sebuah warung, karena langsung di jual di dapurnya, makanya orang sering menyebutnya gudeg pawon. Kita pembelipun makan di "pinggiran" rumah, bukan seperti kios makan yang ada meja dan bangku yang berjejer.

Herannya kok ya banyak sekali pelanggannya. Padahal kalau menurut saya, gudeg itu dimana-mana sama aja (dasar bukan foodi!! hehe...) Hanya sepertinya "sensasi" yang kita dapat, karena tengah malam, di gang sempit plus kita tak perlu berpakaian rapi. Pake baju rumah juga nyaman, karena tak ada pengunjung yang datang dengan pakaian resmi dan rapi (misalnya berdasi, pakai jas, atau untuk wanita berkebaya, hehe)

Sekali lagi...bagi yang ingin "bersensasi" dengan makan fresh from oven di tengah malam, mungkin gudeg pawon di jalan Janturan ini salah satu alternatifnya.

PA Mungkid punya kantor baru



Sebentar lagi kami akan menempati kantor baru, kantor yang lebih representatif dibanding kantor yang sekarang. Lebih luas, lebih baik. Moga-moga dengan kantor baru diikuti juga semangat baru. Uhuy........
Baru-baru ini kantor kami dikunjungi pejabat-pejabat dari Mahkamah Agung, untuk melihat layak tidaknya kantor kami jika diresmikan oleh Ketua MA.Kalau layak, tentu kami punya gawe besar, datangkan orang Nomer Satu di lembaga peradilan. Waw....

Selasa, 22 April 2008

Teman-Teman Magister Hukum Bisnis UGM

Teman-Teman Magister Hukum Bisnis UGM.
Begini nih kalau teman-teman sudah buat acara, pasti heboh dan seru. Gak tau yang muda dan yang tua, semua berbaur jadi satu. Pak Juri dan pak Sugeng yang perwira polisi enjoy dan berbaur, gak menempatkan diri sebagai sosok yang sangar, Bunda Laras selalu dengan sikap keibuan, ”momong” anak-anak, menyediakan rumah untuk tempat berlajar. Pak Herry menjadikan rumahnya sebagai base camp. Hakim-hakim dengan sukarela menyediakan bahan-bahan yang berkaitan dengan UU dan peraturan. Pokoknya semua baur membaur membuat kekompakkan kita sangat kental.

Senin, 21 April 2008

Napak Tilas ke Baturetno




Kunjungan ke Baturetno kali ini di luar rencana, karena sebenarnya niatnya hanya menengok Bpk Bardus Syafaat (bapaknya Yuni) Solo, tapi belum sempat ke Solo, ternyata sudah diperbolehkan pulang, maka aku dan Fatra memutuskan tetap ke Baturetno yang jaraknya 3 jam lagi dari Solo.




Di jalan Yuni sudah sms kalau gak usah aja ke Baturetno, karena jauh dan kami naik angkutan umum. Tapi dasarnya sudah diniatkan, maka walau perjalanan jauh dan lama, tetap aja kami ke Baturetno. Anggap aja napak tilas beberapa kali kunjungann saya ke Baturetno.




Benar aja......di jalan seperti "nostalgia" sejak tahun '83 dan seterusnya. Dan andaikata almarhum Wati masih ada, tentu takkan terucap lagi: "Lily, ini masih Indonesia kan?", ya....dulu waktu kami hadiri pernikahan Yuni, aku dan Wati naik bus, karena perjalanan lama, melewati hutan-hutan, Wati yang orang Jakarta yang kiri kanan jalan gedung, sempat komentar:"Lily, ini masih Indonesia kan?" Ah....andai kata Wati masih bersama kami, tentu kalimat itu takkan terulang, karena perjalanan ke Batu tidak sesulit dan senelongso dulu. Sudah ada bus ber AC.




Hanya sayangnya, napak tilasnya sudah tidak seperti dulu. Karena dulu jika kami nyebrang sungai Gedawung, harus "berbasah-basah" karena nyemplung di air, kalau sekarang sudah ada jembatan. Maunya ngajak Yuni untuk foto di sungai gedawung lagi, tapi kok gak enak juga, karena bukan sungai gedawung yang dulu lagi, yang kalau foto gak akan "seaneh" sekarang.




Entah kapan lagi "napak tilas" ini kan berulang.






Rabu, 09 April 2008

Pemandangan Harian di PA Mungkid

Beginilah pemandangan keseharian di kantor saya, dengan jumlah perkara yang setiap bulan rata-rata 125-150 perkara,maka rata-rata setiap hari kami menyidangkan 10-20 perkara setiap majelisnya. Maka setiap hari kami 'didatangi' paling tidak 50-100 orang, dengan berbagai keperluan, ada yang mau konsultasi,daftar perkara,sidang,ambil salinan putusan.
Foto ini saya ambil di tempat saya sering duduk ketika tidak sidang. Dengan ini saya bisa sedikit mengamati polah tingkah orang, termasuk tamu-tamu 'rutin' yang menjadi "pengacara bayangan". Dan hal ini sangat tidak saya toleril jika kebetulan menjadi perkara yang saya tangani.

Foto ini saya ambil pada saat masih pagi, masih sepi,karena beberapa saat lagi, suasana akan semakin riuh, dan akan kembali sepi setelah ,menjelang jam 12 siang. Ini rutin kecuali hari Jumat yang tak ada jadwal sidang.

Dengan jumlah perkara yang cukup banyak,kelihatan sekali belum ada upaya-upaya yang cukup signifikan untuk menekan, sehingga tidak semuanya bermuara ke pengadilan. Upaya yang ada selama ini hanyalah penyuluhan-penyuluhan hukum yang efeknya belum terasa. Saya berharap harus ada terobosan baru, misalnya berupa'reward' pada masyarakat yang tidak punya masalah dengan hukum. Bukan hanya sekedar pemilihan ibu teladan, keluarga sakinah dan lain-lain. Semoga...

Jumat, 04 April 2008

Kebersamaan di Bumi Serpong Damai yang memang Damai.

Minggu 2 Maret kami diundang untuk kumpul kumpul walau hanya untuk ketawa-ketiwi di rumah keluarga mas Eko jam 11 (sewangunnya), maklum ini Jakarta dan Indonesia, jadi janjian jam 11 bisa kumpulnya 3 jam kemudian.
Karena gak tau, atas kebaikan “sopir tembak”, aku diantar ke rumah BSD, itupun masih disuguhi sarapan siang (bukan pagi,maklum sudah jam 10).
Lagi sarapan siang, tiba-tiba masuk sms:”Sudah 30 menit,bsd langsung hijau dengan sejuta pohon”Alamaaak….itupun masih disusul oleh telpon mas Eko yang kuatir aku nyasar. Ah…..mulai gelisah juga nih, rupa-rupanya teman-teman mulai pada ngumpul. Ah, untuk mengurangi kegelisahan aku jawab smsnya:”Tambah 2 juta dong, hehe….”Serta merta aku dapat balasan: “3 juta sekalian aja”. Waduh!!! Aku langsung menyudahi makan siangnya dan bergegas menuju rumah mbak Danik yang memang tidak jauh dari tempat makanku. Akhirnya kami kumpul dan ketawa ketiwi.
Mas Hendro dan Nyonya,
Akur, kemana-mana selalu berdua, bulan madu sepanjang masa, maka ke BSD juga datang dengan Nyonya, biar teman-teman di Alhidayah juga bisa kenal. Maklum waktu di Alhidayah mas Hendro belum punya calon.













Acara ini oleh mbak Danik dan Mas Eko dipersiapkan untuk "menyambut"mas Adib yang datang jauh-jauh dari Ternate. Walau sebenarnya datang ke Jakarta untuk GCU.
Tapi oleh teman-teman malah jadi ajang "konsultasi kebidanan", hehe...dulu waktu di alhidayah kan kita belum punya masalah dengan masalah gituan. Makasih ya mas...










Mas Eko bukan hanya menjadi tuan rumah yang ramah dan bertanggung jawab (karena memantau terus keberadaan saya, hehe...) Tapi juga mengantarkan tamu sampai di tempat tujuan. Padahal waktu kita sama-sama di Alhidayah saya belum pernah diantar mas Eko.














Inilah tuan rumah teladan.
Sudah menjadi sifat dasar mbak Danik yang ramah dan selalu care. Maka tak bisa terkatakan lagi bagaimana bahagianya kami yang datang, selain bisa ketemu tuan rumah dan teman-teman juga terasa di rumah sendiri ketika berada di rumah mbak Danik. (Tapi kok gak cuci piring sendiri ya mbak?...)














Wow.....seru banget!! Karena walau telat, mbak Mimin datang denga "pasukan lengkap". Wajah mas Ito berubah, gak seperti waktu sering datang ke Alhidayah. Justru mbak Mimin yang masih imut-imut walau sudah punya 5 anak, masih seperti gadis!!!














Inilah kak Nia-ku. Kami sama-sama dari Bone. Aku menempati kamar "warisan" kak Nia, jadi nyaris kita gak pernah hidup bersama di Alhidayah, tapi kak Nia sering datang ke Alhidayah atau kita ketemu di acara Ikatan Mahasiswa Sul-Sel.













Selain mbak Danik, yang paling sibuk dengan acara ini mbak Ninik kita ini. Sibuk hubungi teman-teman yang berada di sekitar Jakarta. Sayang juga ya...beberapa gak sempat datang (mbak Yayuk dan mbak Titik). Tapi tanpa kehadiran mereka kita busa juga "ketawa-ketiwi"kan?
















Kalau saya hadir di acara itu, ini sebuah kebetulan yang membahagiakan. Karena saya ada di Jakarta bukan karena mau reuni, tapi menemani orang tua. Tapi inilah, segala sesuatu ada hikmahnya.

Senin, 31 Maret 2008

BES


Bursa Efek Surabaya Tinggal Kenangan
Karena sekarang telah bergabung dengan Bursa Efek Jakarta dan Menjadi Bursa Efek Indonesia. Tapi kenangan serta ilmu yang kami dapatkan bukan hanya kenangan tapi sangat berguna.
Terima kasih pak Jamil.....