Tampilkan postingan dengan label Oh Pondokku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oh Pondokku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 April 2008

Teras Mesjid Pabelan,


Teras Mesjid Pabelan,
Saat menjadi santri, tentu rasanya kita gak bisa duduk santai apalagi “mejeng” untuk foto. Tapi setelah keluar dari Pabelan, rasanya sudah tak ada lagi rasa “tidak nyaman” itu, kita bisa bebas untuk duduk dan ngobrol dengan “santri putra” .
Teras mesjid ini sering dipakai untuk Khutbah Wada', Khutbah Iftitah dan banyak kegiatan lainnya. Terasa nyaman jika duduk-duduk disini, karena berhadapan dengan halaman luas, disampingnya ada kolam, dan arsiteknya terbuka, jadi jika sholat, tak perlu merasa panas.

Foto diambil saat hahal bil halal (bulan Syawal) pada tahun 1987 (kak Badar, Adi Umar,Lily, Alfiah dan Ahmad Ibrahim)

Rabu, 02 April 2008

Pak Balya

Pak Balya kami

Kami bisa karena bapak…

Kami bertahan karena bapak..

Kami sabar karena bapak…

Kami mengerti karena bapak…

Kami memahami karena bapak...

Kami toleransi karena bapak...

Kami berbuat karena bapak…


Ini semua karena bapak melakukan dan memberi contoh untuk itu..

Ini semua karena bapak tak menuntut kami untuk seperti itu..

Tapi ini semua kami ikuti karena bapak adalah bapak kami…

Senin, 31 Maret 2008

Mereka yang berjasa


Wajah-wajah berseri selalu senantiasa dengan penuh senyum menghantarkan kita untuk memulai mengenal “man jadda wa jada”, mengajari kita “ana,anti,antum”, membimbing kita untuk mengeja huruf dan angka, ah…..betapa banyak yang kita dapatkan dari mbak-mbak guru kita ini.


Kini waktu terus berjalan, hubungan itu tetap terjalin semakin manis, kian hangat dan makin erat, walau keadaan dan tempat jauh dari tempat kita dipertemukan. Ya…. Pabelan bukan Yogya, tapi kehangatan dan keakraban Pabelan masih terbawa di Yogya. Mbak-mbak guru kita tetap menjadi guru yang senantiasa siap membimbing kita, mengajari kita dan memberi kehangatan seperti yang kita dapatkan. Indah…..indah sekali…..!


Masihkah kita mengingat mereka? Walau sekedar nama? Mbak Enny, mbak Maria, mbak Woro,mbak mbak Nanik, mbak Istiatun, mbak Solikhah mbak Nuaraida? Tentu di benak kita masing-masing punya kenangan yang sangat indah dengan mbak-mbak guru kita, kenangan yang sangat berkesan, karena mereka kita sampai saat ini masih mengingat “man jadda wa jada”……


Mbak Mang dan Mbak Enny


Mbak Maria dan Mbak Enny.

Keduanya sama-sama cantik dan berkarisma,ini kesan ketika mbak Maria dan mbak Enny berdiri di depan kelas mengajar.

Keduanya wanita cerdas.

Keduanya akrab dan hangat serta lebur menjadi sahabat ketika kita berbagi cerita.

Keduanya membimbing kita menjadi gadis remaja yang penuh percaya diri.

Keduanya mengajari kita berbusana yang rapi dan cantik, walau itu tidak dalam pelajaran yang terjadwal.

Keduanya mendampingi kita menjadi remaja yang kuat.

Keduanya melindungi kita ketika kita galau dan gelisah.

Keduanya….

Keduanya…..

Keduanya memberi contoh pada kita.

Terima kasih mbak….terima kasih…..semuanya itu masih tersimpan rapi di hati kami murid, dan adik mbak Maria dan mbak Enny.


Mbak Istiatun


Mbak Atun.

Apa yang ada di benak kita tentang mbak Atun?Sebagai mayoret handal drum band Pabelan? Sebagai mbak yang memelintirkan rambut? Atau sebagai wanita tinggi yang

lincah jika berjalan?


Itu semua dulu, sekali lagi dulu dan lebih mantapnya: Itu Tempo doeloe!! Karena mbak Atun sekarang tidak seperti itu lagi. Ini bukan hanya karena waktu yang berganti, tapi tentu tentu grup drumb band (sekarang kerennya marching band) yang mau memakai mbak Atun dengan “modal” 3 jenis pukulan di drumb band Pabelan (mars kaveleri, lagu assalamu’alaikum dan Anak kambing), tapi 3 jenis lagu tadi telah “diganti” menjadi mayoret sebuah LSM wanita di Yogya, tentu dengan irama dan gaung yang lebih membahana dibanding pukulan-pukulan drum band kita yang sering kendonya (saat itu lho).


Soal memelintirkan rambut, dengan memakai jilbab, tentu mbak Atun tidak seleluasa seperti waktu kita di Pabelan, jadi rasanya pemandangan mbak Atun memelintirkan rambut, saat ini menjadi pemandangan yang langka.


Kelincahan……..bukan hanya sekedar berjalan dengan lincah, tapi mendidik dan mengasuh dengan 3 buah hati yang masih kecil-kecil membuat kita yang umurnya lebih muda harus mengancungi jempol! Hebat dan tangkas!


Mbak Atun…..kesan kami dulu…kini telah berubah menjadi kesan yang mengangumkan. Mbak Atun memang selalu kami kagumi…….


Mbak Nanik pendamping kami


Mbak Nanik pendamping kamar kami….

Pertama ketika kita mulai menjadi santri, tentu pendamping kamar yang menjadi orang yang kami tuakan.

Dan berbahagialah kita jika mbak Nanik yang menjadi pendamping kamarnya, karena dengan kesabaran dan care terhadap kami, kerinduan kegelisahan jauh dari orang tua menjadi terobati.

Dengan sabar mbak Nanik mendampingi kami dalam setiap gerak kami,dalam kenakalan kami, dalam ketakberdayaan kami, dan itu bukan pekerjaan mudah, karena kami beranjak remaja dengan jiwa merdeka, jiwa berontak,jiwa angkuh.

Menghadapi ini semua, tak tersirat wajah keletihan,kemarahan….tapi semuanya dihadapi dengan senyum yang sangat menentramkan,

Mbak……ajari kami untuk bisa seperti itu.