Tampilkan postingan dengan label OBROLAN DENGAN ANAKKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OBROLAN DENGAN ANAKKU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 September 2008

KERJA DUA KALI

Tadi karena tidak sidang, saya ke kampus, dalam perjalanan teringat permintaan Vansa untuk membelikan mukena merek Dannis. Sebenarnya tahun ini saya sudah membeli mukena "kembar" saya dengan anak-anak. Tapi rupanya Vansa masih ingin memiliki mukena merek Dannis. Inilah repotnya kalau anak-anak semakin beranjak remaja, sudah tahu merek!! Ah...moga-moga aja Vansa tidak diperbudak merek.

Mumpung saya melewati toko khasanah muslim, saya pikir saya telpon anak-anak untuk memberitahu kalau biar saya aja yang belikan baju muslim dan mukena dannisnya. Lewat telpon saya coba "minta izin"
Mama: "Assalamu alaikum..."
Anak-anak: "waalaikum salam ma.."
Mama: "Ini mbak Aya atau adik?" (saya memang sulit membedakan suara telpon antara Vansa dan Caysa)
Adik: "adik ma...ada apa?"
Mama: "Dik, mama nanti mau mampir ke toko, mama carikan aja mukena dan bajunya ya?"
Adik: "Sebaiknya tidak ma, karena kalau adik dan mbak Aya gak cocok, nanti kerja dua kali lagi kan? Kita harus beli lagi?"
Mama: "Ya sudah, tapi sebaiknya gak mengganggu waktu ke masjid" (Dalam hati sebenarnya"waduh!! aku diultimatun anakku secara halus. Hehe...)

Senin, 01 September 2008

TAK ADA PAKSAAN

Caysa: "mama...ini lho..mbak Aya gak mau TPA dan buka bersama di mesjid"
Vansa: "Mama...kan tak ada paksaan dalam beribadah"
Mama: "Betul....tapi kita kan perlu amal, salah satunya meramaikan mesjid"
Yang terjadi kemudian,Vansa hari ini tak ke mesjid jika sebuah keterpaksaan, tapi berjanji besok akan ke mesjid untuk mencari amal.

Selasa, 19 Agustus 2008

OBROLAN DENGAN ANAKKU (Tentang Suap)

Kadang dalam komunikasi kita, ada hal-hal yang bisa kita ambil "ilmu" dari anak-anak. Dan ada juga komunikasi kita yang bisa ita kenang, tapi itu akhirnya seperti dibawa angin karena kita tidak sempat menyimpan dalam memori catatan, apalagi kalau obrolan itu biasa-biasa aja.

Saya ingin menyimpan obrolan dengan anak-anakku, bukan untuk dinilai baik-buruknya, tapi semua apa adanya, karena kadang obrolan itu muncul saat kita lagi bete, atau juga kurang atensi dengan obrolan anak-anak kita. Tapi bagi saya "kenangan" materi pembicaraan yang ingin saya abadikan.

Obrolan setelah melepas "saudara jauh" seorang perwira polisi (setelah ini kita pakai istilah PP) dan istri pejabat (anak-anak biasa memanggilnya "ma Cong" di resto Jimbaran.Hanya dengan Abil, karena Caysa tertidur.
Kakak: "Ma, tadi ngobrol apa dengan Om PP dan ma Cong?
Mama: "Obrol tentang KPK dan sekarang ada kemajuan setiap institusi atau pribadi untuk hati-hati dengan hal-hal yang berkaitan dengan uang"
Kakak: "Tapi mama kok seperti kurang atensi?, Apalagi ketika om PP menceritakan tentang jenis komunikasi dan pola penerimaan uang"
(Catatan, Abil mendengar tentang bagaimana menyimpan uang-uang tidak memakai rekening kita, tetapi memakai rekening orang-orang di sekitar kita, memakai kata-kata sandi untuk hal-hal yang berkaitan dengan deal-deal tertentu, nomer hp khusus untuk kita dan keluarga, dan semacamnya)
Mama: "Betul, karena sepertinya om PP menganggap mama sebagai hakim yang mau terima uang. Maklum Om PP tidak pernah bertemu mama, sejak mama masih SD. Makanya ma Cong juga gak banyak komentar karena tahu mama sangat tidak bisa kompromi dengan hal-hal demikian".
Kakak:" Selama ini mama pernah menerima uang dari yang berperkara?"
Mama: "Alhamdullillah tidak sayangku, bahkan pernah teman mama menerima sebagai uang syukuran, sedangkan mama mengembalikan"
--------------------
OBROLAN DENGAN ANAKKU (Tentang jadi Presiden)
Obrolan dimulai setelah Vansa dijemput dari Elti, dan Caysa sudah bangun.
Vansa: "Mama, mbak Aya mau jadi presiden. Mama mau gak?"
Kakak: "Kakak juga mau"

Mama: "Gak mau, karena mama merasa gak mampu dan mama mau berbuat yang kecil saja tapi langsung bermanfaat. Kenapa mbak Aya dan kakak mau jadi presiden?"
Vansa: "Karena mbak Aya punya idealisme dan cita-cita terhadap Indonesia"
Kakak: "Jadi presiden memang tidak mudah, selain punya idealisme, dan setahu kakak harus populer dan layak dipilih (
Yang ini saya belajar dengan Abil, karena kemudian Abil menerangkan apa yang dimaksud dengan populer dan layak dipilih. Abil mencontohkan artis, yang populer, tapi apa layak dipilih?)
Caysa: "Kalau mbak Aya dan kak Abil mencalonkan jadi presiden, mama pilih siapa?"
Vansa: "Dibagi, mama pilih kakak dan papa pilih mbak Aya. Lho....adik pilih siapa?"
Caysa: "Tergantung siapa yang menurut adek paling baik"