Senin, 21 April 2008

Bapak-bapak kami di Baturetno

Menjalin silaturahmi dengan orang tua teman bagi kami teman-teman di Pabelan, sudah semacam "keharusan". Kami mencoba akrab bukan hanya dengan teman kami iyu, tapi juga dengan orang tuanya serta saudaranya. Akibatnya kami seperti punya banyak orang tua dan takkan merasa asing jika tinggal di rumah teman kami.
Di Baturetno, ada pak Bardus Safaat, bapaknya Yuni serta adik-adiknya Yuni, Ahsan dan Daris.Jadi kalau kami ke Baturetno, sudah bukan seperti tamu, walau saya yakin juga pasti bu Bardus "kerepotan" karena harus menyiapkan hidangan.Dan tentunya hidangan itu kami santap senyaman-nyamannya karena menunya "khas" sayur lombok hijau. Mirip makanan gunung kidul. Dan kemarin seperti biasanya, sayur lombok hijau itu terhidang panas-panas, plus nasi yang dibungkus daun jati. Nikmaaaaat!!!
Kemarin saya juga sempat silaturahmi dengan pak Somad (bapaknya mbak Tatik), kakak kelas saya di Pabelan. Wow....senang banget, walau gak ketemu mbak Tatik (karena mbak Tatik sekarang di Tegal), yang penting ketemu bapaknya. Masih teringat kami ambil kedondong di depan rumah mbak Tatik. Sayangnya menurut pak Somad, kedondong itu sudah ditebang. Kalau gak...tentu kemarin cari galah dan metik lagi!!

Napak Tilas ke Baturetno




Kunjungan ke Baturetno kali ini di luar rencana, karena sebenarnya niatnya hanya menengok Bpk Bardus Syafaat (bapaknya Yuni) Solo, tapi belum sempat ke Solo, ternyata sudah diperbolehkan pulang, maka aku dan Fatra memutuskan tetap ke Baturetno yang jaraknya 3 jam lagi dari Solo.




Di jalan Yuni sudah sms kalau gak usah aja ke Baturetno, karena jauh dan kami naik angkutan umum. Tapi dasarnya sudah diniatkan, maka walau perjalanan jauh dan lama, tetap aja kami ke Baturetno. Anggap aja napak tilas beberapa kali kunjungann saya ke Baturetno.




Benar aja......di jalan seperti "nostalgia" sejak tahun '83 dan seterusnya. Dan andaikata almarhum Wati masih ada, tentu takkan terucap lagi: "Lily, ini masih Indonesia kan?", ya....dulu waktu kami hadiri pernikahan Yuni, aku dan Wati naik bus, karena perjalanan lama, melewati hutan-hutan, Wati yang orang Jakarta yang kiri kanan jalan gedung, sempat komentar:"Lily, ini masih Indonesia kan?" Ah....andai kata Wati masih bersama kami, tentu kalimat itu takkan terulang, karena perjalanan ke Batu tidak sesulit dan senelongso dulu. Sudah ada bus ber AC.




Hanya sayangnya, napak tilasnya sudah tidak seperti dulu. Karena dulu jika kami nyebrang sungai Gedawung, harus "berbasah-basah" karena nyemplung di air, kalau sekarang sudah ada jembatan. Maunya ngajak Yuni untuk foto di sungai gedawung lagi, tapi kok gak enak juga, karena bukan sungai gedawung yang dulu lagi, yang kalau foto gak akan "seaneh" sekarang.




Entah kapan lagi "napak tilas" ini kan berulang.






Sabtu, 19 April 2008

Gang Satu Alhidayah




















Inilah penghuni di gang Satu Al Hidayah. Teman-teman di gang lain sekamar dihuni 2 orang, tapi kami sekamar dihuni hanya sendirian. Akibatnya "keegoannya" juga gak jamak-jamak, hehe....

Kami punya tipe masing-masing. Kak Nana yang kalau sudah belajar, bisa-bisa seharian gak keluar kamar, mbak Nuri yang kalau masuk kamar mandi bisa berjam-jam, atau mbak Aty yang kalau sudah ngomong, gak bisa dipotong. Tapi semuanya menyenangkan.

Sepenggal Cerita dari reuni Alhidayah




















Pada saat liburan Natal 2007 lalu, kami mantan penghuni asrama Alhidayah mengadakan reuni di rumah jawa (kaliurang) Yogyakarta.
Asrama Alhidayah adalah asrama yang dibina oleh kakak-kakak HMI Fak MIPA UGM, dimana kami dididik menjadi mahasiswi yang diharapkan memancarkan jiwa-jiwa keislaman, sehingga hampir setiap minggu selalu ada pembinaan berupa pengajian dan lain-lain.

Kekerabatan yang tumbuh di antara kami sesama penghuni juga sangat erat, walau tentu ada juga friksi, tapi rasanya itu tidak terlalu tajam, sehingga yang tampak adalah kerukunan dan kekerabatan yang sangat dlam.

Setelah kami berpisah puluhan tahun, dan rata-rata kami telah berkeluarga, kemarin atas prakarsa mbak Eva, kami bisa kumpul bersama. Penghuni intinya 18 orang, tapi kemudian ditambah suami dan anak-anak, maka terkumpulah 116 orang. Bukan jumlah yang sedikit. Tapi berkat persiapan yang matang, semua bisa berjalan baik. Bahkan kami bisa juga napak tilas di asrama kami dulu.

Kamis, 17 April 2008

Ima Sahabat kami


Ima......Imoy.....Gimana kabarnya? Kami merindukanmu Moy.............

Budi dan mas Hano



Budi dan Mas Hano,
Kalau kami sudah bertemu…..rasanya 4 jam itu kurang!!! Karena obrolannya bisa ngalor-ngidul, semua diperbincangkan!! Mulai model baju, sampai bus kota.
Aku senang kalau bisa ngorol dengan mereka, karena selalu memberikan pencerahan yang mengurangi beban, dan pengendalian jika itu berlebihan.

Mereka sahabat yang sangat dekat,kami terbiasa membagi cerita. Ini berlangsung sejak kami kuliah smester pertama. Saat kuliah kita belajar bareng, jalan bareng, nonton bareng, dan berantem bareng (???) hehe….kadang-kadang. Tapi itu semua sebagai bumbu “persahabatan muhrim”kami. Karena kami akan saling membantu jika salah satu dari kami ada yang dalam kesusahan,kami akan menjadi pelabuhan akhir jika salah satu dari kami diterpa badai.

Walau kini kami berpisah dan profesi kami berbeda, ini tidak melunturkan ruh “persaudaraan muhrim”kami, walau intensitasnya berkurang, tapi hati kami tetap terpaut erat. Terima kasih Allah, telah mempertemukan kami…………..

Bu Sawitri


Vansa dengan Bu Sawitri,
Kepergian bu Sawitri menjadi kepedihan yang mendalam bagi Vansa. Semua kenangan disimpan rapi, termasuk surat berita kematian yang dikeluarkan oleh sekolah.

Vansa memang dekat dengan bu Sawitri, karena selama 2 tahun menjadi wali kelas, juga sepertinya bu Sawitri mengenal betul karakter Vansa dan bisa merebut hatim Vansa. Bu Sawitri dengan telaten meluluhkan hati Vansa yang “keras” dan mengikis keegoan Vansa.

Vansa terakhir bersama bu Sawitri saat acara kemah di Prambanan, Vansa sempat foto bareng, dan mungkin foto ini sebagai foto perpisahan Vansa dengan bu Sawitri.
Selamat jalan bu Sawitri, semoga amal serta kebaikan ibu kepada Vansa, berbalas berlipat-lipat oleh Allah SWT, amien……………

Teras Mesjid Pabelan,


Teras Mesjid Pabelan,
Saat menjadi santri, tentu rasanya kita gak bisa duduk santai apalagi “mejeng” untuk foto. Tapi setelah keluar dari Pabelan, rasanya sudah tak ada lagi rasa “tidak nyaman” itu, kita bisa bebas untuk duduk dan ngobrol dengan “santri putra” .
Teras mesjid ini sering dipakai untuk Khutbah Wada', Khutbah Iftitah dan banyak kegiatan lainnya. Terasa nyaman jika duduk-duduk disini, karena berhadapan dengan halaman luas, disampingnya ada kolam, dan arsiteknya terbuka, jadi jika sholat, tak perlu merasa panas.

Foto diambil saat hahal bil halal (bulan Syawal) pada tahun 1987 (kak Badar, Adi Umar,Lily, Alfiah dan Ahmad Ibrahim)

Mas Hudi dengan Baju "dinas"


GAYA MAS HUDI,
Hanya berkaos dalam, bercelana pendek, adalah menjadi “baju dinas” suamiku jika mau kerja bakti di rumah (bersih-bersih rumah atau cuci mobil), akibatnya….hampir semua kaos dalamnya ada nodanya. Udah berkali-kali diminta untuk pakai kaos oblong, biar kaos dalamnya gak kotor, tapi tetap aja gak pernah digubris. Ya udah deh….mungkin memang mas Hudi merasa nyaman dengan berbusana “dinas” seperti ini. Hanya konsekuensinya saya harus sering-sering beli kaos dalam untuk mengganti yang rusak/kotor karena sering berubah fungsi menjadi “baju dinas” kerja bakti.

Rabu, 16 April 2008

Nonton Bareng



























Yk, 26 Desember 1991

Foto ini tak terlalu banyak makna bagi orang lain, tapi tidak bagiku.
Ini sebagai "mile stone" bagi saya pribadi, karena terlalu banyak hal yang kemudian berpengaruh dalam hidup ku.

Kami menonton film "smlie before dying",yang bercerita tentang pasangan kembar anak konglomerat pemilik perusahaan Evergreen, yang dibunuh pacarnya dilempar dari lantai atas. Saudara kembarnya yang membongkar kasusnya.(Ini menurut mas Adib, karena aku sendiri lupa judul filmnya apalagi jalan ceritanya)

Sayang waktu itu mas Hano gak ikut (enatah kemana den Bagus Hano saat itu), dan kami nontonpun di luar rencana, sehingga saat kumpul-kumpul di rumahku, kemudian kami rencanakan nonton bareng di Twenty one gedung Hero.

Sayang, Twenty One/Gedung Hero nya terbakar, tapi kenangan nonton bareng ini tak ikut terbakar karena masih selalu ada dalam hati kami masing-masing (Ima, Budi,Yoyok, Lily dan mas Adib)

Menengok mas Hano KKN


Bukit Patuk, Gunung Kidul, Medio 1991

Kami menengok mas Hano yang lagi KKN di Gunung Kidul. Inilah hikmahnya kalau KKN di waktu berbeda. Waktu aku, Budi dan Ima KKN, waktunya bersamaan, jadi walau 1 kabupaten, tetangga kecamatan, tidak bisa saling kunjung-mengunjungi. Maka saat mas Hano KKN, kami bisa menengok di lokasi KKNnya.

E....gak taunya di sana ada Yuniko. Ya...jadi tambah seru deh!! Jadi sebenarnya kami dua
rombongan berbeda, tapi bisa jadi rame dan asyik, kare
na bisa kenalan dengan "calon ipar", hehe.... Sayangnya ternyata Kuasa Illahi merubah semuanya. Yuniko yang diharapkan menjadi jodoh mas Hano, harus kandas di tengah jalan.


Tapi, bagaimanapun, kami bahagia pernah dikenalkan dengan seorang wanita bernama Yuniko yang penuh kesabaran
dan ketelatenan bersahabat dengan mas Hano, yang kami sendiri kadang megab-megab menjalaninya, hehe....(mas Hano gak boleh protes kalau baca ini, karena seperti inilah yang kami rasakan, hayooooo!!!) hehe...

Entah Yuniko sekarang berada dimana, tapi saat mereka berdua bersama, ada aturan yang jelas, aku dan Ima gak boleh dicem
buruin, karena kami berempat adalah "sahabat semuhrim", hehe....tak boleh ada ketertarikan selain sahabat. Pacaran menjadi kata "haram"bagi kami. Alhamdulillah ini tetap kami jalani sampai sekarang. Suami dan istri dari kami tak boleh cemburu dengan "persahabatan semuhrim ini"

Selasa, 15 April 2008

Cara Caysa bangun malam



CAYSA DENGAN JAM WEKER
Caysa sebenarnya termasuk anak yang mudah bangun. Karena tidurnya tidak terlalu malam, jam 20.00 sudah harus mulai tidur. Rata-rata setiap hari jam 5 pagi sudah bangun.

Hanya kalau ingin sholat malam, tentu harus bangun tengah malam. Karena jam tubuhnya biasa jam 5, maka untuk bisa bangun di luar jam 7 bukan hal mudah. Maka tentu perlu alat bantu, yaitu jam weker. Tapi berkali-kali jam wekernya bunyi tapi Caysa gak bangun juga ( saya segera matikan jika bunyi), maka ditempuhlah cara dengan menempelkan jam weker di telinga. E……tetap gak bangun juga!!! Maklum saya ambil, dan membangunkannya seperti hari-hari biasa. Dan bisa ditebak....pagi-pagi muring-muring karena gak bisa bangun malam, dikirain karena tidurnya yang terlampau lelap sampai gak bisa bangun.

Senin, 14 April 2008

Dari Den Bagus Hano

Inilah Den Bagus Hano yang "multi relasi" denganku. kadang menjadi teman, kadang menjadi konsultan, ini kami jalani sejak pertemuan pertama saat mengikuti penataran P4 mahasiswa baru di UII. Profesi dan jarak yang "memisahkan" kami, tapi sering saya di email hal-hal yang lucu,menggelikan atau untuk sekedar iseng. Nah untuk kali ini ada yang agak "berbobot", sehingga saya ingin memposting, biar ini punya nilai untuk saya atau siapa saja yang sempat membacanya.

Did I Marry The Right Person?
Cerita di bawah ini sangat bagus, bagi yang masih single maupun yang sudah menikah. Bagi mereka yang masih single bisa mengambil pelajaran dari cerita ini, dan bagi yang sudah menikah cerita ini bisa jadi guide line untuk meningkatkan ikatan pernikahan yang udah dijalani."Apakah saya menikah dengan orang yang tepat?"Dalam sebuah seminar rumah tangga, seseorang audience tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat lumrah, "Bagaimana saya tahu kalo saya menikah dengan orang yang tepat?" Saya melihat ada seorang lelaki bertubuh besar duduk di sebelahnya jadi saya menjawab "Ya.. tergantung.Apakah pria disebelah anda itu suami anda?"Dengan sangat serius dia balik bertanya "Bagaimana anda tahu?!""Biarkan saya jawab pertanyaan yang sangat membebani ini."Inilah jawabannya...
SETIAP ikatan memiliki siklus.Pada saat-saat awal sebuah hubungan, anda merasakan jatuh cinta dengan pasangan anda. Telpon darinya selalu ditunggu-tunggu, begitu merindukan belaian sayangnya, dan begitu menyukai perubahan sikap-sikapnya yang bersemangat begitu menyenangkan.Jatuh cinta kepada pasangan bukanlah hal yang sulit. Jatuh cinta merupakan hal yang sangat alami dan pengalaman yang begitu spontan.Nggak perlu berbuat apapun.. Makanya dikatakan "jatuh" cinta...Orang yang sedang kasmaran kadang mengatakan "aku mabuk cinta".Bayangkan ekspresi tersebut! Seakan-akan anda sedang berdiri tanpa melakukan apapun lalu tiba-tiba sesuatu datang dan terjadi begitu sajapada anda. Jatuh cinta itu mudah. Sesuatu yang pasif dan spontan.Tapi...setelah beberapa tahun perkawinan, gempita cinta itu pun akanpudar. Perubahan ini merupakan siklus alamiah dan terjadi pada SEMUA ikatan. Perlahan tapi pasti.. telpon darinya menjadi hal yang merepotkan, belaiannya nggak selalu diharapkan dan sikap-sikapnya yang bersemangat bukannya jadi hal yang manis tapi malah nambahin penat yang ada.Gejala-gejala pada tahapan ini bervariasi pada masing-masing individu.Namun bila anda memikirkan tentang rumah tangga anda, anda akan mendapati perbedaaan yang dramatis antara tahap awal ikatan, pada saat anda jatuh cinta, dengan kepenatan-kepenatan bahkan kemarahan pada tahapan-tahapan selanjutnya.Dan pada situasi inilah pertanyaan "Did I marry the right person?" mulai muncul, baik dari anda atau dari pasangan anda, atau dari keduanya.. Nah Lho!Dan ketika anda maupun pasangan anda mencoba merefleksikan eforia cintayang pernah terjadi, anda mungkin mulai berhasrat menyelami eforia-eforia cinta itu dengan orang lain. Dan ketika pernikahan ituakhirnya kandas. Masing-masing sibuk menyalahkan pasangannya atas ketidakbahagiaan itu dan mencari pelampiasan di luar. Berbagai macam cara, bentuk dan ukuran untuk pelampiasan ini, menginkari kesetiaan merupakan hal yang paling jelas. Sebagian orang memilih untuk menyibukan diri dengan pekerjaannya, hobinya, pertemanannya, nonton TV hingga merasa bosan, ataupun hal-hal yang menyolok lainnya.Tapi tahu tidak?! Bahwa jawaban atas dilema ini tidak ada di luar,justru jawaban ini hanya ada di dalam pernikahan itu sendiri. Mencaripelarian?? Silahkan. Anda bisa! Bisa saja ataupun boleh saja anda mencari pelarian. Mungkin pada saat itu anda akan merasa lebih baik.Tapi itu bersifat temporer, karena setelah beberapa tahun anda akan mengalami kondisi yang sama (seperti sebelumnya pada perkawinan anda).Karena (pahamilah dengan seksama hal ini)KUNCI SUKSES PERNIKAHAN BUKANLAH MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT, NAMUN KUNCINYA ADALAH BAGAIMANA BELAJAR MENCINTAI ORANG YANG ANDA TEMUKAN, DAN TERUS MENERUS..!Cinta bukanlah hal yang PASIF ataupun pengalaman yang spontan. Cinta TIDAK AKAN PERNAH begitu saja terjadi. Kita tidak akan bisa MENEMUKAN cinta yang selamanya, tapi kita harus MENGUSAHAKANNYA dari hari ke hari.Benar juga ungkapan "diperbudak cinta" Karena cinta itu BUTUH waktu,usaha, dan energi. Dan yang paling penting, cinta itu butuh sikap BIJAK.Kita harus tahu benar APA YANG HARUS DILAKUKAN agar rumah tangga berjalan dengan baik. Jangan membuat kesalahan untuk hal yang satu ini.Cinta bukanlah MISTERI.Ada beberapa hal spesifik yang bisa dilakukan (dengan ataupun tanpa pasangan anda) agar rumah tangga berjalan lancar. Sama halnya dengan hukum alam pada ilmu físika (seperti gaya Gravitasi), dalam suatu ikatan rumah tangga juga ada hukumnya. Sama halnya dengan diet yang tepat dan olahraga yang benar dapat membuat tubuh kita lebih kuat. Beberapa kebiasaan dalam hubungan rumah tangga juga DAPAT membuat rumah tangga itu lebih kuat. Ini merupakan reaksi sebab akibat. Jika kita tahu dan mau menerapkan hukum-hukum tersebut, tentulah kita bisa "MEMBUAT" cinta bukan "JATUH". Karena cinta dalam pernikahan sesungguhnya merupakan sebuah DECISION, dan bukan cuma PERASAAN...!" Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengancara yang sempurna ".

Sabtu, 12 April 2008

Caysa di antara teman-teman mamanya

Caysa paling senang kalau diajak kemana-mana, dan saya paling merasa nyaman jika bawa Caysa, karena enak diajak jalan. Semakin besar, semakin terasa kami bisa menjadi teman dan sahabat, maka sering setiap acara, saya selalu mengajaknya. Maklum kakak-kakaknya sudah mulai malas ikut.

Jumat, 11 April 2008

Diamku bisa Bicara


diamku bisa bicara

Dalam diam hati yang bicara
Bicara tentang harapan
Berkata tentang asa
Berucap tentang kesedihan
Merintih tentang kegelisahan

Diamku punya makna
Karena bisa berontak,
Dengan kegeraman yang tak terkira
Dengan emosi yang sangat membara


Ketika aku diam
Aku berharap orang akan diam
Dan tak mengusik diamku
Karena diamku bisa bicara


(Mungkid,11 April 2008)



































Kamis, 10 April 2008

MEREKA YANG BERADA DI BALIK SIDANG

Inilah teman-teman bagian pengetikan di kantor. Tanpa mereka, salinan putusan akan tertunda sampai di tangan para pihak yang berperkara.
Tugas mereka gak mudah,dengan dengan perkara yang tidak sedikit, belum lagi jika hakimnya menyerahkan konsepan putusan mepet waktu pengambilan. Makanya seharian kerjanya hanya mengetik,mengetik dan mengetik. Kalau masuk ke ruang pengetikan, bukan hanya urusan menyerahkan salinan putusan, tapi kadang “info terkini” tentang dunia gaul bisa kita dapatkan disini. Maklum, mereka tenaga-tenaga muda, jadi kalau masuk dan gobrol, seakan-akan masih umur 17 tahun juga.

Kadang aku kasian juga, karena tulisan kami kadang-kadang asal coret aja, entah masih bisa terbaca, atau harus pakai ilmu telepati agar bisa membacanya. Kalau mereka sudah “jungkirbalikkan” konsep putusan dan masih juga belum bisa terbaca, baru mereka datangi kami untuk menanyakan apa yang tertulis di kertas.
Karena telah bertahun-tahun melayani kami, maka mereka juga lama-lama akrab dengan gaya bahasa masing-masing hakim dalam membuat putusan. Bisa-bisa mereka lebih ahli membuat putusan karena terbiasa membaca putusan dari beragam hakim.


FAJAR
Paling ganteng sendiri, karena seruangan dengan wanita.Seringnya saya bertemu saat sarapan. Karena kalau gak sempat sarapan di rumah, saya sarapan di kantin kantor.Disini saya “ditemani” mas Fajar yang juga sama-sama belum sarapan. Banyak yang bisa kita obrolkan dengan mas Fajar ini, mulai masalah mobil ngadat, hp, cewek cantik, dll. Pokoknya mas Fajar menjadi “guru” bagi saya.

WIN
Waah…..ini sering menjadi “ojek” ku dari kantor ke karet (tempat menunggu bus ke Yogya). Maklum, jam pulangnya mbak Win untuk menyusui bayinya sering bersamaan dengan jam pulangnya saya. Alhasil, walau mbak Win sudah di atas motor, masih harus nunggu saya berkemas-kemas. Dan plok. Aku langsung duduk manis di atas motor Mio nya mbak Win, mengantarkan aku ke karet, mengantarkan aku istirahat siang di atas bus menuju Yogya.

YUNI,
Ini anak ragilnya kantorku. Karena bukan hanya badan dan wajahnya yang imut-imut, tapi memang umurnya paling muda. Tapi tentu paling senior dalam urusan ketik mengetik, dan minim dari kesalahan. Ini yang aku kagumi. Aku yang memlototi tuts aja sering salah, e….. Yuni tanpa melihat bisa sempurna. Salut Yun!!!

HARI-HARI ”MENYESAKKAN” BAGI PAK HALIM.

Tugas Panitera Pengganti memang membantu Majelis demi kelancaran sidang. Mempersiapkan ruangan, sampai dengan mencatat proses persidangan. Pokoknya peran mereka sangat berarti!! Hakim juga sangat tergantung dengan panitera pengganti. Seperti dalam blog saya sebelum ini, yang namanya pak Halim ini, benar-benar penuh pemakluman. Entah alasannya banyak salinan putusan yang mau diambil, dan sederet alasan sebagai “legalitas” kerjaan-kerjaaannya yang “tertunda”. Kami-kami yang selama ini sudah bergaul cukup lama dan menjadi “team” yang cukup solid, paling-paling senyum jika datang dan membawa perkara yang harus segera dikonsep sementara waktunya mepet.
Usilnya juga gak hilang-hilang. Kadang telpon saya bunyi, yang angkat pak Halim. Hehe….Kasian kalau yang telpon teman yang gak tau persahabatan di kantor kami yang begitu cair. Paling-paling waktu yang angkat pak Halim, langsung dimatikan. Dan saya akan segera menelpon balik sambil meminta maaf atas ulah isengnya pak Halim.
Nah…. Sekarang kena batunya!! Ada pergantian majelis, kebetulan ketua majelisnya hakim baru masuk Mungkid. Waaah……tiap hari kerjaan pak Halim dianggap kurang inilah…kurang itulah…membuat dada pak Halim semakin sesak!! Kami hakim yang selama ini penuh pemakluman, hanya senyum-senyum aja dan berlalu sambil menggoda: “Pak…tolong BAP nya diketik lagi…ada yang kurang”


Rabu, 09 April 2008

Pemandangan Harian di PA Mungkid

Beginilah pemandangan keseharian di kantor saya, dengan jumlah perkara yang setiap bulan rata-rata 125-150 perkara,maka rata-rata setiap hari kami menyidangkan 10-20 perkara setiap majelisnya. Maka setiap hari kami 'didatangi' paling tidak 50-100 orang, dengan berbagai keperluan, ada yang mau konsultasi,daftar perkara,sidang,ambil salinan putusan.
Foto ini saya ambil di tempat saya sering duduk ketika tidak sidang. Dengan ini saya bisa sedikit mengamati polah tingkah orang, termasuk tamu-tamu 'rutin' yang menjadi "pengacara bayangan". Dan hal ini sangat tidak saya toleril jika kebetulan menjadi perkara yang saya tangani.

Foto ini saya ambil pada saat masih pagi, masih sepi,karena beberapa saat lagi, suasana akan semakin riuh, dan akan kembali sepi setelah ,menjelang jam 12 siang. Ini rutin kecuali hari Jumat yang tak ada jadwal sidang.

Dengan jumlah perkara yang cukup banyak,kelihatan sekali belum ada upaya-upaya yang cukup signifikan untuk menekan, sehingga tidak semuanya bermuara ke pengadilan. Upaya yang ada selama ini hanyalah penyuluhan-penyuluhan hukum yang efeknya belum terasa. Saya berharap harus ada terobosan baru, misalnya berupa'reward' pada masyarakat yang tidak punya masalah dengan hukum. Bukan hanya sekedar pemilihan ibu teladan, keluarga sakinah dan lain-lain. Semoga...

Makan Saat Gempa

















Yang namanya lapar, apapun menjadi nikmat!! termasuk ketika gempa,karena rasa syukur alhamdulillah kami sekeluarga diberi kesehatan, dan sekitar kami banyak yang rumah hancur , mengungsi dimana-mana, tanpa pikir panjang semua bahan persediaan makanan saya berikan,tanpa sisa, tanpa berpikir bahwa saya juga harus makan.tiba saat makan, baru menyadari kami juga harus makan. Akhirnya kami harus keluar untuk cari makan. Hal ini bukan hal mudah, di Bantul tentu sangat sulit, maka kebetulan kami dapatkan di pinggir jalan ada soto yang jualan, dengan tempat seadanya dan rasa ala kadarmya itupun harus meracik sendiri karena penjualnya sendiri gak mampu lagi,maka kami pun makan dengan lahapnya, yang penting perut terisi.Minum pun harus bawa sendiri karena penjual tak menyediakan minum,syukur di mobil selalu tersedia minum.

Alhamdulillah ini tak berlangsung lama,karena keesokan harinya “bala bantuan” dari teman-teman kantor membawakan sembako plus kiriman roti dan kue dari teman-teman sekitar Yogya, membuat kami tidak kesulitan makanan. Dan berkah ini juga bisa dirasakan pengungsi di sekitar rumah.Apalagi saya belum bisa masak,karena takut masuk rumah dan masak kemudian tiba-tiba ada gempa susulan. hi.......bisa-bisa malah masakannya hangus!!!


Selasa, 08 April 2008

Bu Jaksa Not

Beberapa waktu lalu aku kedatangan tamu istimewa, Nulatifa (kami biasa memanggilnya"Not") Istimewa karena sejak wisuda (thn’93) sampai baru kemarin ketemu lagi. Waktu kuliah kami sebenarnya gak dekat-dekat banget, karena aku keburu dekat dengan orang lain dan temanku ini juga keburu digaet orang lain. Boleh dikata kami dekat karena sahabatku punya keinginan untuk dekat tapi gak kesampaian, hehe…. (Jadi kami kenal karena kedekatan orang lain).Tapi walaupun gak kesampaian, e…..aku masih juga kena getahnya nganterin sahabatku untuk PDKT, maklum Not ini tinggal di asrama putrid krapyak, jadi kalau ada tamu laki-laki pengurusnya agak sangar. Maka akulah yang jadi pembuka pintu, setelah mereka ketemu, aku pura-pura aja baca Koran atau apalah yang memang sudah aku siapkan dari kampus.

Dasar sahabatku, walau mereka sudah pisah lama, aku juga masih tempat curhat untuk nyari keberadaannya. Dengan iming-iming “apapun yang kamu minta Ly, akan aku turuti”, ini kata-kata yang masih aku ingat. Dasar kalau sudah kebelet, saban hari aku ditelpon,nanyain alamat dan nomer telponnya. Aku minta 3 bulan, e….dikasih waktu 15 hari. Nah….karena bolak-balik dijanjiin mau dikasih sesuai permintaan, maka aku mulai gerilya nyari dan alhamdulillah ketemu. E….giliran sudah ketemu alamat Not,dan saking gembiranya karena aku telah memberikan nomer telponnya, untuk ucapkan Terima Kasihpun lupa!! Dasar DBH!!!

Not sekarang jadi jaksa, dan semoga menjadi pendekar kebenaran, Seperti Jaksa yang ada di benakku:Baharudin Lopa, Aku bangga jika ada sahabatku bisa menggantikan harumnya Baharudin Lopa.