Kamis, 01 Mei 2008

Kenangan bersama keluarga Budi


Semasa kuliah, rasanya kami ingin selalu bersam, termasuk saat ke Semarang, kami sempatkan untuk bersilaturahmi ke ibunya Budi. Sosok wanita tangguh yang telah menghantarkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang sukses, sehingga menjadi dianugerahkan sebagai ibu teladan nasional

Sebagai orang muda, kami banyak belajar dari beliau, bagaimana sebagai seorang janda, bisa membesarkan ke 8 anak, menjadi orang orang-orang sukses, peran beliau di masyarakat juga sangat menonjol. Kami salut dan menaruh hormat, dan mencoba menjadikannya sebagai suri tauladan

Lily dan Toga


Saat kuliah dulu, rasanya tak terbayangkan kalau akhirnya toga menjadi pakaian ”keseharian” saya dalam menjalankan tugas.

Ya....saat mengikuti Kartikum (Karya Latihan Hukum) betapa ”bangganya” bisa memakai toga, memerankan diri menjadi hakim. Dan ternyata ini berkelanjutan, suratan takdir menjadikan toga sebagai pakaian sehari-hari.

Yang Lain dari mas Hudi

FOTO KECEMBURUAN

Entah apa yang menyebabkan sejak pertama Caysa melihat foto ini, Caysa langsung tidak suka dan marah. Seakan-akan Caysa menunjukkan rasa cemburu pada papanya. Padahal foto ini hanya kebetulan saja diambil saat papanya berada di pedalaman Kutai, karena papanya tidak mengenal juga ibu yang bersama-sama naik motor laut ini.



MAS HUDI PAKAI BLANGKON,

Sejak menikah, saya tau betul suami saya tidak terlalu merasa nyaman jika harus menggunakan pakaian adat Jawa. Makanya waktu kami mengadakan resepsi di Yogya pun tidak menggunakan pakaian Jawa. Tapi karena menjadi panitia perkawinan, maka mau gak mau mas Hudi mau juga berbusana Jawa. Hehe.....ini baru namanya mas Hudiyanto!!!


Anak-anak main hujan


MAIN HUJAN

Rasanya tiap anak pernah merasakan nikmatnya main hujan. Termasuk anak-anakku. Kalau hujan.....wow.....rasanya dapat berkah. Karena bisa main hujan. Dan misalnya saya tak izinkan, ada-ada aja alasannya, misalnya pura-pura sudah kehujananlah....hanya 10 menitlah....sekalian cuci sepedalah.... Dan sejuta alasan yang akhirnya saya izinkan, asal kondisi mereka memungkinkan. Toh sebentar lagi kalau sudah dewasa, pasti gak akan main hujan-hujanan lagi.


Cerita Dari Saketa



PUSKESMAS SAKETA

Nama Saketa, sejak kecil sampai aku kuliah rasanya belum ada dalam memori saya. Tapi kemudian menjadi sangat akrab dan melekat karena kemudian mas Adib ditugaskan di puskesmas Saketa, kecamatan Gane Barat kab Maluku Utara (sebelum Maluku Utara menjadi propinsi tersendiri). Awalnya saya harus menelusuri satu demi satu nama daerah di kepulauan Halmahera, alhamdulillah.....akhirnya ada juga nama Gane tertulis di peta.


Dan tentunya, peta tak bercerita banyak tentang Saketa, cerita tentang Saketa banyak saya dapatkan melalui surat-surat yang dikirim dari mas Adib. Bagaimana sepinya Saketa, cerita tentang televisi pertama masuk ke Saketa, jalanan yang ditumbuhi rumput selutut, pantai sebagai WC terpanjang, dll. Dan saya sangat menikmati surat-surat itu walau baru sampai di tangan saya 2 minggu setelah dikirim.


Entah bagaimana kabar puskesmas Saketa sekarang, karena sudah tidak ada lagi surat-surat yang saya terima dari Saketa.........

Selasa, 29 April 2008

Liburan Pertama Bersama


Liburan ke Bandung
Baru kuliah satu smester dan langsung dapat teman akrab, maka kami langsung menyusun acara liburan ke Bandung. Kebetulan Pak Wisnoe Said (bapaknya mas Hano) bertugas di bandung. Maka jadilah kami semua menginap di rumah mas Hano. Mungkin saat itu saking lugunya gak mikir “pantas tidak pantas” nginap di rumah teman laki-laki. Atau memang karena kami sudah sangat akrab, jadi perasaan risih itu tidak ada.

Waah….di Bandung, kami dijamu ibu (ibu Wisnu) sebagai anak sendiri, dimasakkan apa yang kami inginkan. Tapi ya itu……saking doyannya aku juga gak kebagian carang gesing karena sudah dihabiskan mas Hano, padahal aku capek-capek dengan ibu ke pasar belanja bahan makanan. Huuh….. nyesel bangeeet deh!! Dan sampai sekarang ini selalu aku ulang-ulang ke mas Hano. Hehe….Liburan ke Bandung
Baru kuliah satu smester dan langsung dapat teman akrab, maka kami langsung menyusun acara liburan ke Bandung. Kebetulan Pak Wisnoe Said (bapaknya mas Hano) bertugas di bandung. Maka jadilah kami semua menginap di rumah mas Hano. Mungkin saat itu saking lugunya gak mikir “pantas tidak pantas” nginap di rumah teman laki-laki. Atau memang karena kami sudah sangat akrab, jadi perasaan risih itu tidak ada.



Ucapan Ultah dari Vansa




Ucapan Ulang Tahun dari Vansa.
Ulang Tahun kemarin, Vansa memberi ucapan Ulang Tahun dengan puisi dan doa.
Terima kasih anakku….Terima kasih cintaku…..
Ini semua support bagi mama untuk mendampingi mbak Aya, kak Abil dan dik Icha.

Lesehan di Malioboro


Lesehan di Malioboro
Ini suasana lesehan di Malioboro sekitar tahun 1989. Sangat ramai dan melegenda. Setiap tamu yang datang ke Yogya, selalu aku ajak lesehan di Malioboro dan tentu hampir semua yang ke Yogya ingin juga merasakan lesehan malioboro.

Sayangnya sekarang lesehan malioboro semakin sepi, karena pernah “diracuni” dengan harga yang gila-gilaan di luar kewajaran. Akhirnya semua kena imbasnya. Pedagang banyak yang gulung tikar. Entah apa masih bisa lesehan di Malioboro jaya kembali.(Foto dengan teh Neli, teman-teman dari Bandung waktu ke Yogya

Papi bersaudara







Keluarga Papi.
Foto ini diambil tahun 1990, saat papi bersaudara masih lengkap. Masih ada papi sebagai anak tertua, kemudian Puang Sule,Puang Naidah,Puang Agus dan Puang Nurhani (tapi aku lebih akrab memanggil mereka dengan tante dan om), termasuk juga masih sehat Puang Kadir (suami puang Nurhani). Sekarang suami istri yang masih lengkap, tinggal papi dan mami), karena Puang Kadir, Puang Sule, dan Puang Tatik serta Puang Nenek yang sangat kami cintai. Semoga arwah-arwah para pendahulu kami itu diterima di sisi Allah, dan kami selalu mengingat mereka sebagai pribadi-pribadi yang membentuk kami sebagai pribadi yang tangguh. Sekali lagi…… Allahummagfirlahum…….

Senin, 28 April 2008

Sariawan Caysa


Sariawan Caysa.
Caysa.....Caysa..... ada-ada aja ulahnya!! Sariawan aja dipotret, lha....kalau sakit gigi, gimana motretnya ya dik?
(Mama selalu kangen dengan ulah usil adik)




Hari minggu itu (20-4-2008), aku betul-betul capeek sekali, karena pagi-pagi hari sudah ada teman yang datang sementara siangnya janji dengan anak-anak mau jalan-jalan. Baru selesai jalan-jalan dengan anak-anak dan mempersiapkan pakaian Abil untuk Kartinian besok paginya, e....sudah ditelpon Fatra kalau ada Meli di Yogya dan mau menemui saya.

Sudah deh...tanpa pikir panjang, aku langsung meluncur ke tempat yang kita sepakati. Aku kuatir lagi, bisa-bisa Meli salah pengertian dikirain saya gak mau menemui, seperti beberapa bulan yang lalu. Padahal posisi waktu Meli telpon dan mau main ke rumah, saya dan keluarga lagi di Kaliurang (utara Yogya), sementara jika saya ke rumahku (Selatan Yogya) memerlukan waktu lebih dari sejam. Meli saat itu sudah dekat rumah. Dan demi seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu, walau dengan badan yang sangat capek aku jalan juga.

Ketemu Meli, semua kelelahan itu langsung sirna. Maklum selain sudah tidak pertemu hampir 23 tahun, banyak "ilmu" bisnis yang aku dapat. Maklum sekarang Meli jadi bisnisman di Banjarmasin. Mulai bagaimana bisa berbisnis dengan cara serdas dan mengamalkan prinsip: ATM (Amati Tiru Modifikasi). Moga-moga aja ilmu yang diajarkan Meli bisa bermanfaat bagi saya yang mulai belajar berbisnis.

Lalu...tak lupa juga Meli bercerita tentang "santrinova"nya, hehe..... seru juga ya..... Ayo!! Action Mel!!! Hehe....

Yk, 28 April 2008

PENGAKUAN YANG TERTUNDA


Pengakuan Yang Tertunda.

Aku hanya bisa menatap mata mas Eko di hadapanku. Aku kaget dengan pengakuannya. Pengakuan yang begitu jujur, pengakuan yang tertunda selama 25 tahun. ”Listia, aku menyayangimu, aku mencintaimu sejak mengenalmu 25 tahun silam” itu sepenggal kalimat yang terucap dari mulut mas Eko
Pengakuan yang membuat aku menundukkan wajah, sekan tak percaya. Karena yang duduk di hadapanku adalah seniorku saat aku duduk di bangku pesantren.
Untunglah kami baru selesai makan di Babaqaran resto lesehan di Yogyakarta. Jika tidak,tentu menu gurameh bakar yang sangat lezat serta tumis kangkung yang menggugah selera tak mampu kutelan.
Tanpa menunggu jawabanku, mas Eko terus mengungkapkan perasaannya bahwa sejak mengenalku, sebagai gadis kecil dengan wajah polos berambut panjang penuh keceriaan ketertarikan itu muncul.
Ya....saat itu aku masih gadis lugu, datang ke pesantren dengan kepolosan untuk menuntut ilmu. Aku tak menduga karena ternyata ada yang memperhatikanku.
”Listia, dirimu, wajahmu, keseharianmu masih terekam jelas di benakku” kalimat itu keluar lagi dari mulut mas Eko seakan untuk memperkuat kalimat-kalimat sebelumnya.
Aku mulai mengangkat kepala, mencoba memberanikan diri menatap wajahnya. Dan aku melihat pancaran kejujuran dari sinar matanya.

Sesaat kemudian, terbayang kembali saat perkenalan pertama kami di kampung temanku Ifah di kawasan Dieng Wonosobo. Ya....saat itu liburan pertengahan tahun. Karena liburnya tidak panjang, maka aku memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halamanku di Bone, tapi cukup berlibur di rumah sahabat akrabku.
Selain aku, ada juga kakak kelasku mbak Ajeng dan mbak Datik yang ikut berlibur bersama kami.

Perjalanan dari pesantren menuju rumah Ifah memang sangat melelahkan, berliku dan menanjak. Untungnya aku terbiasa melakukan perjalanan ke kampungku Bone, jalan menuju Bone lebih terjal, kiri jurang kanan gunung batu. Sehingga terasa berbeda jika menempuh perjalanan menuju Wonosobo yang sangat sejuk, karena kiri kanan jalan terhampar pemandangan hijau yang menyejukkan mata, membuat kekaguman tersendiri, sehingga sangat di sayangkan jika semua ini terlewatkan. Beda dengan Ifah, yang sudah terbiasa menempuh perjalanan ini, sehingga goyangan bus yang tidak begitu penuh ditambah kesejukkan udara, membuat Ifah sudah terbuai mimpi. Biarlah dia bermimpi dengan indah batinku. Aku ingin memimpikan tentang sesuatu, tentang keindahan alam Wonosobo. ”Ah.....andai kelak suatu waktu aku bisa meniti hari di desa yang penuh kedamaian ini” batinku yang tak jelas muncul dengan tiba-tiba.
Tanpa terasa kami telah sampai ke desa Ifah. Kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sekitar 500 m dari tepi jalan untuk sampai ke rumah Ifah. Sepanjang jalan dengan bwaaan baju yang cukup berat kami isi dengan percakapan dan rencana acara besok pagi. Yah....acara pertama adalah main di sungai kecil dan mampir ke rumah kak Eko Prihandoko. Ah...rasanya aku tak perlu membantah, karena sebagai tamu, aku pasrah saja. Toh pasti semuanya meneyenangkan.

Setiba dirumah Ifah, kami disambut ibu Ifah yang sangat ramah. Sejenak kami duduk di ruang tamunya yang bersih dan berhawa sejuk. Rumah model Jawa, yanbg penuh kehangatan, dengan kursi-kursi kayu jati. Kemudian kami disuhuhkan teh panas dengan singkong goreng. Serta merta mbak Ajeng dan mbak Datik meminum dan melahap singkong goreng yang hangat. Aku yang walau telah 2 tahun tinggalkan kampung halaman, masih sulit juga menikmati teh yang beraroma melati. Tapi demi menghormati ibu Ajeng yang telah bersusah payah menyuguhi kami, maka aku meminum juga teh melati tadi walau hanya sesruput.

Setelah meminum dan menyantap kami menuju kamar yang sudah dipersiapkan ibu Ifah, dan bersiap-siap untuk mandi dan makan malam. Saat makan malam kami banyak bercerita tentang keseharian kami selama di pondok dan hal-hal yang lucu serta yang menyedihkan yang kami alami. Setelah makan malam, karena bandan sangat letih, kami masuk kamar dan langsung tertidur pulas.

”Listia....” mas Eko memanggilku menyadarkanku akan lamunan saat pertama kali bertemu.
”Waktu kamu, Ifah,Ajeng,Datik datang ke rumahku, aku langsung tertarik padamu, dan sampai saat ini masih terlukis jelas dalam ingatanku. Kamu memakai baju berwarna ungu, rambut diikat kuncir kuda” lanjut mas eko.
”Ah.....jangan diucap lagi! Malu ah...” aku tersipu-sipu .
”Di rumah mas Eko kita makan rujak, yang buahnya diambil dari pohon di halaman ya mas....” aku mencoba menghilangkan kegelisahanku dengan menimpali kenangan-kenangan yang diungkap mas Eko.
” Setelah itu kita main di sungai dekat rumah Ifah dan jalan-jalan ke candi Dieng, wow...menyenangkan sekali” dengan mata berbinar-binar mas eko bercerita kejadian 25 tahun yang lalu, seakan-akan baru terjadi dalam hitungan hari.
Akihirnya kami saling cerita tentang liburan kami yang tanpa direncanakan menjadi liburan bersama dengan mas Eko.Sampai akhirnya kami harus kembali ke pesantren setelah masa liburan usai.

”Listia....”lagi-lagi mas Eko memanggilku dengan lembut.
”Setelah di pesantren, kita memang jarang bertemu, tapi aku selalu mengikuti setiap gerak langkahmu walau dari jauh. Aku sering sengaja menunggumu di depan asrama Ancient hanya berharap kamu lewat saat sholat Magrib. Tentu kamu tak melihatnya, karena kamu asyik bercengkrama dengan teman-temanmu. Tapi bagiku ini sudah cukup membahagiakan”
”Listia...kadang juga saya mengikuti teman yang hendak menemuimu, walau aku tau aku hanya akan dicuekin, bagiku ini tak apa-apa, karena berada di dekatmu dengan hati yang berdegub kencang menjadikan ini suport bagi hidupku.
”Listia.....”lagi-lagi mas Eko kali ini memanggilku dengan mata penuh sayu.
”Aku juga tau bahwa banyak teman-temanku yang menyukaimu, berharap cinta darimu. Tapi semuanya kau tolak. Ini membuatku semakin tak punya keberanian untuk menyatakan perasanku padamu, walau aku tau rasa cintaku begitu dalam padamu. Ah....Listia....!!” Terdengar kegeraman yang menyakitkan di kalimat akhir mas Eko.
Aku hanya diam,diam dan membisu. Aku tak mampu berkata-kata, hanyut dengan perasaan mas Eko yang begitu dalam.
”Setelah aku menyelesaikan pendidikan, aku masih selalu mengingatmu dan berharap kita masih saling bertemu. Silaturrahmi itu aku jalin dengan tetap berusaha menyuratimu dalam setiap kegiatanku. Ya....itu aku lakukan karena aku tak ingin kehilangan kamu, Listia” kata mas Eko menekankan kalimat terakhir.
”Mas, aku juga selalu rajin membalas surat yang mas Eko kirimkan kan?” jawabku untuk meredakan perasaan mas Eko.
Tanpa menanggapi apa yang baru saja aku ungkapkan, mas Eko tetap saja melanjutkan.
”Aku juga tetap rajin menyuratimu ketika kamu tamatkan pesantren dan melanjutkan kuliah di Yogyakarta, walau kemudian kita seakan-akan putus komunikasi. Tapi hatiku tetap selalu dan selalu mengingat kamu”
”Setiap datang ke Yogyakarta, di hatiku selalu berkata:”Listia.....kamu dimana???”, dan bagiku ini sudah cukup. Karena aku kemudian mengetahui kamu telah menikah dan telah dikaruniai anak, demikian juga aku”.
Aku hanya bisa diam dan diam....tak mampu lagi berkata apa-apa.
”Listia, kamu gak pernah ingin tau kabarku kan? Ini semua karena kamu tak pernah perduli dengan aku kan?” Tiba-tiba aku disentakkan pertanyaan yang tidak bisa kujawab serta merta.
Aku menatap wajah mas Eko, aku melihat tatapan yang tajam,seakan-akan menembus jantungku.Aku menghela nafas panjang.
”Mas, kenapa ini mas katakan? Seakan-akan aku dihakimi?Apa diamku menunjukkan aku tak mengingat dan mengenal mas Eko? Rasanya kok tidak. Andai ada orang yang menanyakan padaku, apakah aku mengenal Mas Eko, tentu akan sesegera mungkin aku jawab:YA”, tiba-tiba aku punya kekuatan untuk menjawab.
Aku melihat mas Eko kaget dengan pernyataanku barusan. Mungkin tak menyangka selama ini bahwa aku juga mengingatnya, tapi dalam hatiku aku berharap bahwa mas Eko tak membaca hatiku, yang juga merindukannya, mengingatnya, mengaguminya, ah....biarlah ini aku pendam sendiri, dan tak ada yang mengetahui kecuali hatiku dan Tuhan”
Samar-samar terdengar lagu Kaulah Segalanya dari Ruth Sahanaya:
Mungkin hanya Tuhan...
Yang tau segalanya...
Apa yang kuinginkan
Di saaat-saat ini

Kau Takkan percaya
Kau selalu di hati
Haruskah ku menangis
Tuk mengatakan yang sesungguhnya

Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang kuharap hanya kau seorang

Sejenak kami terdiam, sama-sam menikmati lagu yang sangat pas dengan suasana batin kami.

”Listia....” lagi-lagi mas Eko memcah keheningan.
”Aku ingin marah, tapi tak bisa, Aku ingin berontak, tapi tak kuasa, saat masih di pesantren dengan penuh perasaan aku menulis surat cinta untuk ungkapkan perasaanku. Mungkin bagimu ini hanya sebagai picisan, tapi tidak bagiku!! Karena sampai saat ini perasaan itu masih menempel kuat dalam sanubariku.Tapi sayangnya balasan yang kuterima darimu adalah balasan surat yang tak punya ruh, sangat datar!!”, mas Eko menekan di kalimat akhir.
Aku hanya bisa diam dan diam, dan tak terasa sudah 3 jam kami duduk bersama, dan terasa begitu banyak hal bisa aku dapatkan selama 3 jam kebersamaan kita ini. Paling tidak ada satu rasa haru bahwa dari banyak lelaki yang menaruh hati padaku, mas Ekolah sebenarnya yang pertama mencintaiku.

”Mas....udah yuk...mas harus pulang kan? ”, aku mencoba mengakhiri pembicaraan kami, karena aku tak ingin terlalu hanyut dengan perasaanku.
”Oke....oke......tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu yang aku pendam selama 25 tahun?, mas Eko menatapku dengan tajam.
”Listia....aku menyayangi dan mencintaimu, selamanya....” tanpa menunggu persetujuanku, mas Eko menyatakan perasaannya dengan mantap.
Aku hanya menunduk.....dan aku tak ingin menjawabnya, karena bagiku apapun jawaban yang aku berikan, takkan merubah semuanya. Karena kami sekarang telah memiliki keluarga yang sangat membahagiakan kami.Hanya batinku menjawab:” Ya mas....aku juga mencintaimu...”

Dan akhirnya kami meninggalkan resto babaqaran dengan membawa perasaan masing-masing, perasaan cinta yang terpendam saat kami sama-sama di pesantren, dimana perasaan itu diungkap setelah 25 tahun berselang. Ya....ini sebagai pengakuan yang tertunda tapi sangat melegakan. Kami meninggalkan diiringi lagu Engkau Masih Kekasihku dari Naff yang lagi-lagi seakan-akan mewakili perasan kami masing-masing
Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku

Tak bisa kutahan laju angin
Untuk semua kenangan yang berlalu
Hembuskan sepi,
Merobek hati

Meski raga ini tak lagi milikmu
Namun di dalam hatiku sungguh
Engkau hidup entah sampai kapan
Kutahankan rasa cinta ini

Dan kuberharap semua ini
Bukanlah kekeliruan seperti yang kukira
Seumur hidupku
Akan menjadi doa untukmu

Andai saja waktu masih bisa terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku di sisimu
Namun kutau itu takkan mungkin terjadi
Rasa ini menyiksaku
Sungguh-sungguh menyiksaku

---------------------------------------------

Seminggu berselang dengan pertemuan dengan mas Eko, aku mendapat sms dari teman mas Eko::
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun,telah meninggal dunia sahabat kami, kakak kami, dan adik kami Eko Prihandoko pada hari Jumat disebabkan karena kecelakaan. Semoga arwah almarhum diterima disis Allah SWT dan keluarga yang ditinggal diberi ketabahan. Amien....Kupenjamkan mataku dan berucap amien..... Ternyata 3 jam telah menghantarkan cinta kami untuk selamanya. Ya...akhirnya aku menyebut pertemuan kami itu sebagai pertemuan 3 jam untuk selamanya.

Minggu, 27 April 2008

BIARKAN


Aku tak ingin dipaksa
Untuk berkata: "ya aku mau" untuk hal yang aku tak ingin.
Karena aku tak ingin berdusta
Dan menganggapnya sebagai angin

Kujunjung sebuah naluri
Sebagai pancaran jiwa
Kemanapun kuberlari
Untuk gapai sebuah asa

Aku tak mau ditekan
Agar mengangguk dan aku ingin menggeleng
Karena aku inginkan
Semua berjalan langgeng

Biarkan semua berjalan
Dalam titian kasih
Tanpa ada resah
Hingga dapatkan sebuah kelapangan.

(Yk,27 April 2008)

Sabtu, 26 April 2008

Mas Hano dan selera makan



Kalau bicara tentang makanan, untuk lingkaran saya mas Hano ini mungkin bisa jadi referensi yang handal. Makanya tak perlu heran, berat badannya gak pernah di bawah 50 kg!! Hehe.... Dan ini sudah berjalan lama, sejak kami kuliah di fakultas Hukum UII. Hanya sayangnya saat itu dengan dompet "mahasiswa" kita pun berburu makanan yang kelas mahasiswa.
Kalau ukuran "porsi" makanan, tentu sesuai dengan kapasitas "tank"nya kan? Makanya, sering kami pergi makan bareng, dan mas Hano dengan porsi ganda, hehe... Aku pernah sekali "nambah" dan mas Hano tidak nambah (karena barusan makan), e.....cerita itu "diulang-ulang" sampai sekarang. Andai itu kaset, tentu sudah kendor pitanya karena seringnya cerita itu diulang-ulang. Makanya kalau sekarang ketemu dan ada acara makan-makan,saya mau nambah aja, biar lagu lama diganti dengan lagu yang terbaru. Hehe... Tapi sudah beberapa kali makan bareng, saya gak sempat nambah atau bahkan gak makan, jadi mas Hano masiiiiih aja dengan lagu lamanya. Apes deh!! hehe...

Aneka Bakso di Borobudur plaza

Borobudur plaza, tempat ini dari tahun ke tahun berganti warna dan berganti "dagangan", mulai bakso, kemudian bakmi, bakery, dan sekarang telah menjadi tempat penjual hp. Saya masih menyimpan sebuah foto di tahun 1988, saat makan bakso dengan mas yayak, Eny, Ima dan Yoyok.

Menikmati Parangtritis dari Bukit

Siapa tak mengenal parang tritis dengan pantainya yang eksotis tapi juga sangat membahayakan. Ternyata menikmati parangtritis tak harus dari tepian pantainya, karena kita bisa menikmatinya dari bukit-bukit sebelah utara parangtritis.
Sangat indah...karena kita bisa memandang parangtritis dari ujung ke ujung dan juga tentunya aman karena tidak takut disapu ombak!!
(Foto diambil tahun 1990, dengan Budi,Ima dan Endah)

Jumat, 25 April 2008

Bersama keluarga Salim Assagaf




Bersama keluarga Salim Assagaf
Menilik namanya aja pasti di benak kita adalah komunitas Arabian. Dan ini memang tak terbantahkan. Kami-kami yang bukan Arab menjadi ”minoritas”, yang kadang hanya senyum-senyum sendiri karena kok kami bisa ”terdampar” di keluarga ini.

Tapi tentu ini tak masalah, karena abahnya Ima serta umi sangat baik dengan kami, begitu juga dengan saudara-saudara Ima (kak Erik, kak Ida,Kak Fahi,kak Fami dan dik Al). Semuanya ok banget....dan kami bisa membaur. Hanya akhirnya kami mendapat tugas untuk ”mengawal” Ima keman-mana. Jika kami yang izin untuk keluar dengan Ima, pasti diizinkan. Jadi sering sekali demi Ima kami harus susah-susah payah izin ke kakak-kakak Ima biar Ima bisa keluar di luar jam kuliah.

Umi memang mendidik anak-anaknya dengan ketat, waktu sholat, saat mengaji dan kuliah semua selalu dalam pantauan, sehingga memang terbukti keluarga Ima semua sukses di bidang masing-masing.

Sebagai keluarga muda, tentu ada yang bisa kita ambil dari pola didik umi, tapi tentu tidak semuanya karena zaman telah berganti.

Ucapan Hari Ibu dari Caysa



Ucapan caysa di hari ibu..Entah Caysa sudah memahami makna hari ibu atau hanya sekedar ikut-ikutan mbak Aya (Vansa), yang pasti setiap hari ibu pasti ada kartu ucapan dari anak-anak. Indah sekali dan sangat menyentuh…. Terima kasih anakku, jiwaku…. Mama menemukan kalian di hati mama, selalu dan selalu

Vansa dan Boneka kesayangan




Vansa dan Boneka,
Boneka Vansa sangat banyak, dan beragam. Waktu kecil, cenderung mengikuti ”trend” tokoh-tokoh yang lagi top. Misalnya boneka Susan, Sponge Bob, Dora, dll. Dan seiring berjalannya waktu, ada yang tetap abadi,tak lekang oleh zaman yaitu boneka Bear. Berbagai koleksi, dari yang terkecil sampai yang terbesar. Sayangnya yang besar karena berubah fungsi menjadi bantal, akhirnya lama-lama rusak.

Dan sekarang Vansa lagi tergila-gila dengan boneka kura-kura, bersamaan dengan kegandrungannya memelihara kura-kura. Vansa mempersiapkan makan, tempat yang nyaman untuk kura-kura. Dan jika ada kura-kuranya yang mati, maka kesedihan panjang akan mendera Vansa.
Entah sampai kapan kegandrungannya ini akan bertahan.

Lukisan anak-anakku


Lukisan-Lukisan anakku
Saya sebenarnya tak memerlukan lukisan berkaliber dunia. Karena lukisan-lukisan anakku sudah cukup untuk menyemarakkan dinding rumah. Abil dan Vansa mempunyai bakat untuk melukis, sayangnya dengan kesibukan mereka di sekolah dan kegiatan-kegiatan lain, menyebabkan kegiatan menggambar dan melukis yang notabenenya nenerlukan waktu dan suasana yang nyaman (tidak kemrungsung) sulit sekali mereka dapatkan. Karena pulang sekolah sudah dalam capek. Dan hari-hari libur sudah terisi dengan acara yang lain.

Vansa sebenarnya masih menginginkan untuk tetap menggambar, hanya sayangnya Vansa inginnya gurunya yang datang ke rumah, tapi sayang gurunya sudah pindah rumah dan kami sendiri tak tau kemana pindahnya. Kami sudah mencoba memasukkan ke sanggar, tapi suasana sanggar yang ”riuh” membuat Vansa merasa kurang nyaman.